Lomba Menulis: Keshalehan Jalan Pena

Thursday, April 5th, 2012

dari http://www.facebook.com/notes/dwi-suwiknyo/lomba-menulis-keshalehan-jalan-pena/10150673536297897

Lomba Menulis: Keshalehan Jalan Pena

by Dwi Suwiknyo on Monday, 2 April 2012 at 16:52 ·
 

Nah. Saya setuju sekali pendapat Pak Hernowo, bahwa menulis bisa memunculkan jatidiri kita. Termasuk didalamnya pengetahuan, pengalaman unik, atau apapun akan muncul saat kita menulis. Saya sendiri merasakannya itu. Akhir-akhi ini, termasuk soal pengalaman spiritual–yang sifatnya sangat personal. Memang benar kok, awalnya saya menulis untuk sebuah buletin yang tersebar di kawasan Jogja hingga 32 edisi–yang akhirnya terbit jadi buku dengan judul ‘Tarbiyah Finansial’ (Diva Press, 2009). Saya kebagian menulis pengalaman hidup banyak orang. Dari situlah saya belajar hidup. Ada sentuhan rasa emosional meski saya tidak mengalaminya. Dan lebih terasa lagi, saat saya menuliskan pengalaman pribadi, kisah yang dialami sendiri.

 

Dalam buku saya, “Agar Rezeki Datang dari Arah Tak Terduga” (Citra Risalah, 2011) misalnya. Begitu banyak kisah saya sampaikan, dan yang saya alami sendiri. Lalu ‘dicocokkan’ dengan risalah Ilahi, benar cocok. Seperti kisah rezeki yang memang sudah dijanjikan Allah untuk kita. Saat ikhtiar sudah maksimal, tetapi hasilnya belum memuaskan. Tiba-tiba ada rezeki dari jalan lain. Nah, saat mengungkap dan menuliskan kisah-kisah seperti itu, rasanya semakin kuat keimanan kita. Bukankah yang membacanya juga terinspirasi, dan tersentuh hatinya? Apalagi buat yang nulis. Itulah yang saya rasakan juga saat menulis buku ‘Jangan Menyerah!’  (Pustaka Refleksi, 2010).

 

Nah. Semakin sering menulis, semakin dekat rasanya pada Sang Pencipta. Sebab yang kita ungkap, dan yang kita tulis itu juga ciptaan-Nya. Bukankah kita bisa mengenal Sang Pencipta dari ciptaannya, manusia. Disitulah letak belajarnya penulis. Ada sisi spiritual memang yang bertumbuh pada akhirnya. Karena ada keyakinan, bahwa penulis tentunya menuliskan suatu kebaikan. Selalu ada sisi berbagi kebaikan disetiap tulisannya. Itulah yang saya sebut sebagai ‘keshalehan jalan pena’. Sebuah cara alami yang dilakukan oleh para menulis untuk lebih dekat dengan Sang Pencipta melalui aktivitas menulis. Dan benar, disela aktivitasnya itu, juga disertai dengan proses membaca kebesaran-Nya.

 

Kini bertambah lagi, membaca dan menuliskan kebesaran-Nya. Sebab saat ilmu yang kita ‘miliki’ kita tuliskan, itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan ilmu-Nya. Sebab itu, sering saya sampaikan di status Facebook. Bahwa, mambaca itu menyerap ilmu dari langit, dan menulis itu menyebarkan ilmu ke bumi. Dengan pedenya kita menjadi perantara ilmu-Nya. Nah, tentu tahapan terakhir–dan diawal sebelum menulis seharusnya–kita sudah mengamalkan ilmu yang kita baca itu, sehingga saat menuliskannya bisa merasa plong. Sebab, kita hanya bisa membagikan apa yang kita punya. Ilmu itu punya, kita amalkan, dan dibagikan kepada sesama.

 

So, saat itulah kita telah menjadi bagian penting untuk saling menginspitasi bagi sesama. Bermanfaat bagi sesama. Sebab, “Sebaik-baik manusia,” begitu sabda Rasulullah Saw, “adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain.” Aha, lega rasanya bila menulis–menjadi penulis–bisa masuk kategori itu. Dan ada kabar gembira juga, bahwa “Barangsiapa menunjukkan orang lain pada sebuah kebaikan, maka baginya pahala sebesar orang yang melakukan kebaikan itu tanpa mengurangi pahala orang tersebut.” Nah. keshalehan jalan pena. Disinilah jalur hidup kita. Amin. Wallahu a’lam bishawab.

 

Poster Pesantren Penulis

 

Tulisan ini dibuat asli oleh Dwi Suwiknyo. Ditulis sebagai contoh tulisan untuk lomba menulis tema ‘Keshalehan Jalan Pena: Komitmen di Jalur Kepenulisan Agar Semakin Dekat Dengan-Nya dan Semakin Bermanfaat Bagi Sesama‘. Ketentuan lomba ini sebagai berikut:

1. Peserta WNI, memiliki akun Facebook, penulis fiksi atau non-fiksi punya karya.

2. Menulis kisah nyata pribadi sesuai tema, bukan kisah penulis lain.

3. Diperbolehkan mencantumkan contoh karya (foto, gambar) dalam tulisan.

4. Tulis hanya dicatatan (note) Facebook, tidak email, tidak di blog.

5. Tag akun Pesantren Penulis, dan 20 teman penulis lainnya.

6. Sertakan info lomba diakhir catatan, disertai poster Pesantren Penulis.

7. Tulisan peserta akan ditayangkan di website http://pesantrenpenulis.org/

8. Batas waktu sampai tanggal 30 April 2012, jam 12 malam.

9. Pengumuman tanggal 5 Mei 2012, melalui akun Pesantren Penulis.

10. Hadiah untuk satu pemenang terbaik:

    a. id-aktivasi (iCode) gratis untuk akses tips menulis di website http://pesantrenpenulis.org/;

    b. paket buku senilai ratusan ribu rupiah, bekerjasama dengan penerbit sponsor;

    c. sertifikat penghargaan bagi pemenang lomba menulis dari Pesantren Penulis.

11. Juri Dwi Suwiknyo, hasil penjurian tidak bisa diganggugugat.

12. Ada pertanyaan, inbox akun Pesantren Penulis, via YM-id: pesantrenpenulis.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: