Drama, Fantasy, Children

Wednesday, April 25th, 2012

“Sudah mau jam 7, Henry,” kata Linda setelah susah payah membaca ketiga angka di jam tangannya dengan bantuan cahaya yang agak remang dari lampu taman. “Kamu masih mau menunggu?”

“Sebentar lagi,” sahut Henry. “Ia pasti datang. Ia janji padaku untuk datang hari ini.”

“Mungkin ia baru akan datang besok,” Linda berusaha meyakinkan pasien kesayangannya itu. “Mungkin ia sibuk atau kelelahan, atau jangan-jangan ia sudah menelepon dan mengabari suster-suster di dalam. Kita harus masuk dan cari tau.”

“Ayah kelelahan? Apa ia sakit?” tanya Henry. Wajahnya mulai terlihat cemas.

“Tidak, tentu tidak. Ayahmu kan selalu sehat.” Linda menggenggam tangan kanan mungil Henry, sadar bahwa ia sudah salah bicara. “Malahan kamu yang akan sakit kalau duduk terlalu lama di luar seperti ini.”

“Aku kan memang selalu sakit.” Henry tertunduk. Poninya yang tebal dan agak ikal jatuh menutupi separuh matanya, menyembunyikan kesedihan yang terpancar di sana.

Lagi-lagi aku salah bicara. Perawat macam apa aku ini? Linda menarik napas dan melepaskan genggamannya dari tangan Henry. “Kamu lapar? Mau kuambilkan sesuatu?”

“Tidak. Kakak lapar?”

“Tidak. Barusan aku sudah makan risotto yang banyaakkkk sekali.”

“Apa itu risotto?”

“Yah, bisa dibilang ia berteman dengan spaghetti.”

“Apa mereka teman dekat?”

Linda tidak bisa menahan senyum yang mengembang di wajahnya. “Hmm. . . ” Ia berlagak seolah-olah sedang berpikir keras. “Sepertinya cukup dekat. Mereka berasal dari kampung halaman yang sama.”

Sekarang Henry yang tersenyum. “Kalau begitu risotto pasti sama enaknya dengan spaghetti!”

“Menurutku risotto bahkan jauh lebih enak. Kamu mau coba?”

Mata Henry berbinar-binar penuh harap. “Boleh?”

“Kenapa tidak?”

“Apa Suster Ann akan marah?”

Linda tersenyum. Anak ini belajar dari pengalaman rupanya. 

“Waktu itu ia marah karena kamu diam-diam membeli soda di kafetaria. Soda tidak baik untukmu,” Linda berusaha menjelaskan duduk perkaranya dengan lembut. “Tapi aku yakin risotto bukan masalah.”

“Benarkah?”

“Ya. Aku akan membelikannya untukmu.” Linda beranjak dari samping Henry dan sekarang berjongkok persis di depan anak laki-laki berusia 8 tahun itu sambil memegang kedua tengkuknya. “Tapi kamu harus berjanji 1 hal padaku.”

“Apa?” tanya Henry.

“Kalau nanti setelah kamu selesai makan ayahmu belum datang juga, kita akan masuk lagi ke kamarmu. Aku janji akan meneleponnya dan memintanya datang besok.”

Henry terlihat agak ragu. Sebentar ia mengalihkan pandangannya ke arah pagar rumah sakit, berharap ayahnya akan datang. Tapi sepertinya tidak ada tanda-tanda kedatangan siapapun.

“Janji?” Linda menggoyangkan lutut Henry yang masih terdiam sambil melihat ke arah pagar. “Oh iya, dan aku akan menambahkan lebih banyak keju ke dalam risotto-mu.”

Pertahanan Henry pun runtuh dalam sekejap. Ia selalu suka keju. “Ummm . . . iya.” Ada sedikit rasa sesal yang mencuat dari hatinya, tapi sungguh ia ingin sekali tahu seperti apa rasanya risotto itu, apalagi katanya itu jauh lebih enak dari spaghetti!

“Bagus! Kalau begitu, tunggu di sini sementara aku membeli risotto-mu di seberang,” Linda berdiri dan meraih dompet yang ia letakkan di atas bangku. “Ingat ya, jangan kemana-mana. Duduk manis dan tunggu di sini.”

Henry mengangguk kecil. Matanya mengikuti punggung perawatnya yang bergerak menjauh. Ia selalu suka padanya, perawat yang paling menyayangi dan memperhatikannya. Ketika suster Ann marah besar seminggu yang lalu setelah melihat kaleng soda yang ia sembunyikan di toilet, Suster Linda-lah yang berusaha meredakan amarah perawat berbadan bongsor dan bersuara menggelegar itu.

Sepertinya Suster Linda adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa lebih betah di sana. Tinggal di rumah sakit sangat membosankan. Ia seringkali harus menginap di rumah sakit karena ketahanan tubuhnya yang mendadak menurun dan menyebabkannya bahkan tidak mampu bangun dari tempat tidur. Ia mulai bertanya-tanya apakah semua anak selemah dirinya, tapi teman-temannya di sekolah selalu terlihat sehat dan bahkan tidak tahu bagaimana cara menggambar tabung oksigen dan kantong infus.

“Hai.”

Henry melepaskan pandangannya dari punggung suster favoritnya itu dan mengalihkannya ke arah suara berat yang memanggilnya. Seorang laki-laki yang tinggi kurus sudah duduk di samping kirinya. Laki-laki itu mengenakan kemeja, celana, dan sepatu yang serba putih, dan sedang tersenyum lebar ke arahnya.

“Hai,” jawab Henry pelan. Biasanya ia selalu takut ketika diajak bicara oleh orang asing, bahkan meski mereka hanya tidak tahan melihat wajah dan posturnya yang menggemaskan, tapi anehnya, kali ini ia sama sekali tidak merasa takut.

“Henry, kan?” tanya laki-laki itu sambil tersenyum. Senyumnya hangat sekali.

“Ya,” jawab Henry.

“Apa yang kau lakukan di luar malam-malam begini?”

“Tadi aku menunggu ayah. Tapi sekarang aku menunggu Kak Linda membelikanku risotto dengan keju yang banyak sekali di sana,” jawab Henry sambil menunjuk ke sebuah restoran bernuansa barat di seberang jalan. “Kalau Paman?”

“Aku?” Laki-laki itu tersenyum lagi, seolah-olah sudah menunggu pertanyaan senada dari mulut Henry. “Aku ingin bertemu denganmu.”

“Bertemu denganku?” Henry tampak tidak mengerti. “Paman siapa? Apa Paman teman ayah? Apa ayah menyuruh Paman untuk bilang bahwa ia tidak jadi datang?”

“Hmm, bisa dibilang begitu,” kata laki-laki itu sambil membenarkan posisi duduknya. Tangannya diletakkan di atas kedua lututnya yang saling menyilang. “Kamu pernah nonton film bagus yang judulnya Hadiah Ulang Tahun Terbaik?”

“Pasti! Aku nonton beberapa kali bersama ayah dan sekali dengan Suster Linda.”

“Siapa tokoh kesukaanmu?”

“Bobby!” sahut Henry antusias. “Si malaikat yang bisa mengabulkan apapun permintaanmu!”

“Nah, Henry,” Laki-laki itu menatap Henry, masih dengan senyuman hangat yang sama menggantung di wajahnya. “Kurang lebih seperti itulah aku.”

  • Ajukan Lanjutan
  • 0 Kom

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: