Drama, Romance, Teen Fiction

Wednesday, April 25th, 2012

dari http://www.volpen.com/read/215/greta#rt=storyline

Judul Chapter: Prolog
Ditulis oleh Volpen ID

Banyak orang mengira hidupnya sempurna.

Dari segi materi, ia tidak pernah tahu rasanya hidup berkekurangan. Ia dibesarkan dengan fasilitas terbaik dan gaya hidup ternyaman. Dari segi penampilan, ia punya paras cantik yang akan cocok dipadukan dengan gaya rambut apa saja, terutama dengan rambut panjang kecoklatan yang sudah dipertahankannya 2 tahun belakangan. Tubuhnya tinggi langsing, hasil dari jenis dan porsi makanan yang dikontrol oleh pakar gizi pribadi keluarga. Kulitnya cerah dan lembut, hasil dari hidup selama 20 tahun dengan perawatan kulit yang intens dan tanpa melakukan pekerjaan rumah tangga, termasuk yang teringan sekalipun seperti menyibak tirai jendela di pagi hari atau membersihkan debu yang menempel di rak buku.

Mungkin hal yang paling menyebalkan bagi para gadis yang selalu menatap iri ke arahnya adalah mereka tidak bisa mencelanya sebagai putri cantik yang tidak berotak. Ia punya indeks prestasi yang nyaris sempurna, kemampuan organisasi yang baik, dan sejumlah prestasi lainnya di berbagai bidang olahraga seperti renang dan tenis. Mungkin hal paling pertama yang akan dicari seseorang ketika melihatnya adalah sesuatu untuk dicela, bahkan meski hanya untuk mengukuhkan keyakinan umum bahwa tidak ada manusia yang sempurna, atau mencari tahu apakah mungkin akhirnya Tuhan memutuskan untuk membagi kesempurnaan-Nya dengan manusia.

Tentu saja keyakinan umum itu masih benar, dan akan selalu benar. Greta tahu pasti akan hal ini, dan ia pun sudah lelah meyakinkan orang-orang bahwa ia masih memiliki alasan untuk iri hati. Lucunya, iri hati menjadi kebutuhan pokok baginya, hak asasinya yang direbut oleh asumsi orang lain. Hanya karena ia terlihat sempurna, orang-orang akan mengganggapnya perempuan tidak tahu diri yang tidak tahu bersyukur jika ia mulai mengeluh dan membandingkan kehidupannya dengan orang lain.

Greta tidak habis mengerti bagaimana orang bisa begitu mudah menilai sesuatu hanya dari apa yang mereka lihat. Ya, ia bersyukur karena ia hidup lebih dari orang lain dalam berbagai hal. Ia tidak perlu menjatah berapa kali ia harus pergi dalam seminggu hanya untuk menghemat uang saku, atau mengejar-ngejar pria yang ia suka karena mereka pasti akan terlebih dulu jatuh hati padanya. Selain itu, ia punya segudang teman dan prestasi, dan ia amat mensyukuri hal itu.

Namun apa yang bisa dibilang sempurna dari meja makan mewah yang di atasnya hanya diletakkan satu set peralatan makan? Apa yang bisa dibilang sempurna dari perhatian ayahnya yang hanya sebatas pemenuhan uang saku yang berlebih dan pelunasan kartu kredit? Apa yang bisa dibilang sempurna dari kepergian ibunya dengan laki-laki lain persis di hari ulang tahunnya yang ke-16? Apa yang bisa dibilang sempurna dari kehidupan semacam itu?

Klise? Ya, memang, dan keklisean itulah yang menyiksa batinnya, karena ia pikir itu semua hanya terjadi di drama-drama yang ia tonton di televisi layar datar berukuran raksasanya yang bahkan dapat dinikmati dari jendela rumah tetangga.

Kebiasaannya dalam menonton drama adalah terkesan dengan betapa realistisnya drama tersebut di episode-episode awal, dan terheran-heran dengan betapa tidak realistisnya akhir drama tersebut. Hidupku tidak akan  berakhir seindah itu, pikirnya kecut. Lucunya, ia tidak pernah bosan menyimak drama-drama terbaru. Di sudut hatinya yang paling dalam, ia mungkin sedang menunggu akhir yang lebih realistis, akhir yang bisa ia percayai.

Yang tidak Greta ketahui adalah, baginya sudah disiapkan sesuatu yang sangat berbeda. Yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya adalah, pertemuan singkatnya dengan seorang laki-laki biasa di suatu sore ternyata membawa akhir yang selama ini ia harapkan, atau mungkin lebih tepatnya …

sebuah awal baru dalam kehidupannya.

  • Ajukan Lanjutan
  • 0 Kome

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: