Drama, Romance

Wednesday, April 25th, 2012

dari http://www.volpen.com/read/220/apa_yang_kaulihat#rt=storyline

Judul Chapter: Beberapa Pertemuan Kami
Ditulis oleh Volpen ID

Pertemuan pertama dengannya sebenarnya sama sekali tidak berkesan. Ketika itu, aku sedang menunggu bus sambil sibuk menjelaskan pada ibuku di ujung telepon bahwa aku hanya pergi sebentar untuk membeli makanan. Gadis itu tersenyum kecil ke arahku. Aku segera memutuskan hubungan telepon dan berlari-lari kecil menuju bus yang sudah mulai berlalu dari hadapanku. Dari atas bus, aku mengamati gadis itu, ia masih duduk diam di halte sambil memandang ke arah jalan yang sudah mulai sepi. Entah siapa yang ditunggunya.

Pertemuan keduaku dengannya, lagi-lagi kami sedang menunggu di halte bus yang sama. Hari itu terjadi kemacetan parah yang menyebabkan bus yang kutunggu tak kunjung datang. Gadis itu duduk persis di tempat pertama kali aku bertemu dengannya, sementara aku berdiri  memunggunginya. Kugeser sedikit posisi berdiriku ke kanan seolah-olah aku sedang menghindari sengatan matahari, padahal sebenarnya aku hanya ingin berada di posisi yang tepat untuk melihatnya lebih jelas. Sesekali aku mencuri pandang ke arahnya, namun seringkali aku hanya melihatnya melalui ekor mataku. Gadis itu tidak cantik, tidak mencolok, jauh sekali dari gambaran-gambaran perempuan idamanku yang sering kulihat di TV atau majalah. Namun entah kenapa ada sesuatu yang membuatku ingin memperhatikannya. Sayangnya, hari itu lagi-lagi bisku datang terlebih dulu dan aku harus meninggalkannya di sana.

Pertemuan ketigaku dengannya kurang lebih sama dengan pertemuan kami yang kedua. Ia duduk di tempat yang sama seperti biasa, yang membuatku berpikir dari jam berapa ia menunggu hingga ia selalu mendapatkan tempat duduk yang sama. Hari itu aku agak mensyukuri kemacetan lalu lintas yang memperlambat kedatangan busku, setidaknya aku punya alasan untuk memperhatikan gadis ini lebih lama. Sambil sesekali mencuri pandang, aku baru menyadari bahwa kami selalu bertemu di hari Rabu. Kali ini juga aku baru menyadari bahwa ia selalu memakai terusan bermotif floral yang sama, tas tangan yang sama, dan sepatu yang sama. Rambutnya pun selalu ditata rapi dengan tatanan yang sama, seolah-olah ia akan menghadiri sebuah pesta atau semacamnya.

Kali ini aku agak lebih penasaran dari biasanya. Jadi, aku melewatkan beberapa bus untuk melihat bus mana yang akan ia naiki, jika memang itu yang ia tunggu. Entahlah, aku hanya ingin tahu apa atau siapa yang ia tunggu. Hampir 30 menit berlalu dan sudah ada sekitar 4 bus yang aku lewatkan. Beberapa bus dengan jurusan lain juga sudah lalu lalang, namun gadis itu sepertinya masih enggan beranjak dari tempat duduknya. Akhirnya, karena sudah terlambat, aku menaiki bus berikutnya dan lagi-lagi meninggalkan gadis itu di sana. Aku benar-benar semakin penasaran.

Pertemuan kami yang keempat adalah pertemuan kami yang paling berkesan. Itu terjadi di hari yang sama dengan pertemuan kami yang ketiga. Malam itu, aku baru pulang dari kantor jam 8 malam. Biasanya, aku selalu pulang bersama temanku yang kebetulan searah, tapi karena lembur, aku harus pulang sendiri dengan bus.

Namun ternyata selain upah tambahan yang lumayan, lemburku hari itu ternyata ada hikmahnya juga.

Baru saja kedua kakiku menapak aspal setelah turun dari bus, aku langsung tertegun melihat gadis itu masih duduk di sana. Aku tidak tahu apakah ia memang duduk di sana sedari pagi atau tidak, yang jelas ia seperti sama sekali tidak bergeser dari tempat duduknya tadi pagi, dengan baju, sepatu dan tatanan rambut yang sama. Hanya saja, beberapa helai rambut sudah terlepas dari ikatannya yang tak lagi serapi pagi tadi. Wajahnya terlihat lelah, dan ia masih memandang kosong ke arah jalanan yang sudah mulai sepi.

Saat itu di halte itu hanya ada kami berdua dan seorang anak kecil berpakaian lusuh yang sedang berjongkok di pinggir halte sambil merapikan beberapa lembar uang dua ribuan di tangannya. Entah bagaimana, jantungku berdegup kencang, dan aku refleks saja duduk di samping gadis itu. Mungkin sebenarnya aku sudah lama menunggu bangku itu kosong.

Aku harus mengajaknya bicara.

“Hei.” Sekedar informasi, aku selalu payah urusan perempuan. Namun kali ini, entah darimana keberanian itu muncul.

Gadis itu sepertinya agak terkejut. Ia terdiam sebelum akhirnya menjawab sapaanku, “Ya?”

Nah, aku mulai bingung apa yang harus kukatakan. Aku sama sekali tidak siap untuk ini, namun kapan lagi aku bisa mengajaknya bicara.

“K-kamu nunggu dari tadi pagi? Nungguin siapa?”

Gadis itu diam saja. Ia sepertinya tidak berani melihat mataku. Kedua tangannya menggenggam tas tangannya erat-erat. Mungkin ia mengira aku penjahat atau semacamnya. Apa aku terlihat seperti itu?

“Sorry, aku bikin kamu kaget ya?” Aku mengulurkan tanganku. Seharusnya aku memperkenalkan diriku lebih dulu. “Aku Edo. Kamu?”

“Maira,” jawab gadis itu lembut. Ia tidak menyambut tanganku. Mungkin seharusnya aku tidak pernah mengajaknya bicara. Apa aku terlihat begitu menyeramkan?

“Aku sering lihat kamu di sini, jadi iseng aja ajak kamu ngobrol,” Aku berusaha menjelaskan maksudku supaya Maira tidak berpikiran macam-macam. “Mungkin kamu pernah liat aku. Tiap pagi aku juga nunggu bus di sini.”

Gadis itu menggeleng sambil tersenyum kecil. Sepertinya ia sudah tidak setakut tadi.

“Oh, nggak pernah, ya? Biasanya rame sih ya.” Aku agak kecewa juga jadinya. Ternyata selama ini hanya aku yang sibuk memperhatikannya.

“Bukan itu,” jawab Maira. “Aku nggak bisa liat kamu,”

“Hah?” Aku tidak mengerti.

 “Aku nggak bisa liat kamu.” Gadis itu tersenyum lagi. “Aku buta.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: