Mystery

Wednesday, April 25th, 2012

dari http://www.volpen.com/read/218/6_tahun_yang_lalu#rt=storyline

Judul Chapter: Mimpi(?)
Ditulis oleh Volpen ID

Aku duduk di ruang tengah, tempat biasa kami berkumpul. Entah kenapa pagi ini sepi sekali. Biasanya, sebelum pergi ke kantor ayah akan menyempatkan waktu untuk duduk denganku dan Kak Niko di ruang tengah, meski hanya untuk membaca koran dan mengobrol seadanya tentang bisnis keluarga atau kuliahku.

Namun pagi itu tidak ada siapa-siapa di sana.

Aku duduk dan menyalakan televisi, yang sebenarnya adalah hal bodoh untuk dilakukan. Tidak akan ada film-film aksi kesukaaanku yang ditayangkan di pagi buta seperti ini. Satu-satunya hal yang bisa kutonton adalah beberapa pembaca berita yang sok tahu dan acara memasak yang berusaha membuat segalanya terlihat lebih mudah.

Sambil sibuk menggonta-ganti channel, aku mendongak ke arah jam yang digantung rapi di dinding di samping kiriku. Baru jam 7 pagi. Apa ayah dan Kak Niko sudah berangkat? Aku mengembalikan perhatianku ke televisi, yang sekarang sedang memberitakan kecelakaan pesawat yang sepertinya baru saja terjadi. Entah kenapa hal ini menggangguku, jadi aku memutuskan untuk meletakkan remote dan mulai memperhatikan dengan lebih serius.

Aku tidak terlalu mendengarkan penyebab dari kecelakaan itu. Yang jelas, pesawat itu meledak di udara setelah kurang lebih 10 menit melandas dan menewaskan seluruh penumpangnya. Tidak berapa lama kemudian, mereka mulai menayangkan daftar nama-nama korban. Ada perasaan aneh yang menjalariku, dan aku merasa harus menelusuri daftar itu.

Aku membaca setiap nama yang tidak familiar dengan perasaan lega. Namun, begitu sampai pada dua nama yang didaftarkan pada nomor 26 dan 27, rasanya jantungku berhenti berdetak.

Perlahan, aku mendekatkan kedua mataku ke layar televisi.

26. RIO DEWANTARA (WNI)

27. NIKO DEWANTARA (WNI)

Tidak mungkin.

Ini tidak mungkin! INI TIDAK MUNGKIN!

 “Bim, Bima! Bangun!”

Suara Anna menyela kepanikanku. Aku membuka mataku dan raut wajahnya yang terlihat khawatir adalah hal yang pertama kulihat. Napasku tersengal-sengal, dan aku bisa merasakan piyamaku yang melekat di kulit karena basah oleh keringat yang bercucuran di sekujur tubuhku.

Lagi-lagi aku bermimpi buruk.

“Mimpi buruk lagi?”

“Iya,” jawabku. “Lagi.”

Anna menatapku dengan iba. Ia adalah saksi hidup bagaimana aku masih terbayang dengan kematian ayah dan kakakku yang begitu tiba-tiba 6 tahun yang lalu. Aku jarang sekali bisa tidur nyenyak sejak kejadian itu. Hampir setiap malam aku bermimpi buruk tentang kematian mereka.

“Tunggu, ya. Aku buatkan susu hangat untukmu.”

“Ya.”

Aku menatap punggung Anna yang perlahan bergerak menjauh, dan membiarkan pandanganku menggantung di pintu kamar yang ia tutup. Anna, wanita terbaik yang pernah kutemui dan akhirnya kunikahi 2 tahun yang lalu. Entah kehidupan macam apa yang kuberikan padanya. Kadang aku tidak tahu apa yang dilihatnya dariku. Aku tidak kaya, tidak tampan, dan aku bahkan tidak bisa melindungi diriku sendiri dari trauma masa lalu. Entah rasa aman macam apa yang bisa kusediakan baginya.

“TING TONG”

Suara bel pintu membuatku terhenyak dari lamunanku. Untuk sejenak aku pikir aku salah dengar, namun suara itu kembali terulang setelah beberapa detik. Aku melirik jam weker digital di samping ranjangku yang sekarang menunjukkan pukul 1:26 pagi.

Dunia sudah gila! Siapa yang datang tengah malam begini?

Dengan kesal aku membanting selimutku dan berjalan ke luar kamar. Di perjalanan menuju pintu depan, aku melihat Anna masih sibuk menyeduh susu hangat untukku di dapur. Ia sama sekali tidak bereaksi terhadap suara bel tadi. Mustahil ia tidak dengar.

Meski mulai meyakini bahwa aku benar-benar sudah salah dengar, aku tetap berjalan ke pintu depan untuk memeriksa siapa tahu benar-benar ada yang datang. Siapapun yang ada di luar pintu, kalau bukan karena gangguan jiwa, ia pasti punya alasan yang sangat kuat untuk bertamu selarut ini. Aku menyibakkan tirai jendela untuk memeriksa siapa yang ada di depan pintu.

Tidak ada siapa-siapa.

Bagus, sekarang aku mulai delusional. Aku bertekad untuk segera kembali ke kamar setelah memeriksa apakah semua jendela dan pintu sudah terkunci dengan rapat. Namun baru saja aku membalikkan badan, bel kembali berbunyi.

“TING TONG”

Baiklah, kesabaranku sudah habis! Aku membuka pintu dengan tergesa-gesa dengan tujuan menangkap basah siapapun yang ada di depan pintu. Ceroboh memang. Aku sama sekali tidak berpikir tentang kemungkinan bahwa tamu tengah malam itu mungkin adalah perampok yang mencoba masuk ke rumah kami dengan cara yang sedikit lebih sopan dan berkelas.

Pintu terbuka dan aku tidak bisa mempercayai apa yang kulihat.

Sesosok pria berdiri di depanku. Aku mengenalnya. Aku mengenal mata sayunya, potongan rambutnya, dan aku bahkan mengenal kaus hijau dan jeans belel yang ia kenakan.

Tidak mungkin. Jantungku seolah-olah berhenti. Seluruh badanku terasa dingin dan gemetar. Lidahku kelu cukup lama, sampai akhirnya sebuah kata keluar dari mulutku.

“K-Kak Niko?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: