Bagi-Bagi Buku: Lagi-Lagi Poligami

Thursday, June 21st, 2012

dari http://leylahana.blogspot.com/2012/05/bagi-bagi-buku-lagi-lagi-poligami.html

 Bagi-Bagi Buku: Lagi-Lagi Poligami

Awalnya tak ada niat sama sekali untuk menyusun buku mengenai poligami. Tak ada latar belakang yang mengharuskan saya mengangkat tema sensitif ini. Keluarga besar saya jauh dari yang namanya poligami. Sepengetahuan saya, tidak ada keluarga dekat yang berpoligami. Oleh karena itu, di dalam buku berjudul “Gado-Gado Poligami” ini, status saya hanya sebagai penyusun. Satu-satunya tulisan saya di dalam buku ini adalah di bagian kata pengantar. Isi buku sepenuhnya ditulis oleh kontributor yang berjumlah lebih dari 50 orang.

Antologi “Gado-Gado Poligami” berisi puluhan kisah nyata dan fiksi kilat bertema poligami. Mulanya, saya melakukan audisi pengumpulan fiksi kilat dalam rangka promosi novelette indie “Hati Bidadari” yang memang bertema poligami. Kisah cinta yang menyentuh tema poligami, diangkat berdasarkan kisah teman saya sebagai wanita kedua. Ada ratusan naskah yang masuk, dan memang sejak awal diniatkan untuk dibukukan. Namun, untuk bisa menembus penerbit mayor, saya terpikir untuk mengkombinasikannya dengan kisah nyata. Jadilah saya mencari naskah kisah nyata poligami melalui audisi tertutup.

Alhamdulillah, kumpulan kisah nyata dan fiksi kilat bertema poligami ini diterima oleh penerbit Quanta, Elex Media, dan sudah diterbitkan dengan judul “Gado-Gado Poligami.” Sejak itu, tugas saya bertambah; mempromosikan buku ini agar banyak yang beli. Itu sebagai tanggung jawab saya kepada penerbit yang sudah mengeluarkan modal untuk menerbitkan buku ini. Dan, olala… ternyata tidak mudah mempromosikan buku yang berbau poligami. Saya pun mulai bersentuhan dengan pelaku poligami sesungguhnya.

Dulu kala, sebelum buku ini terbit, saya pernah membuat tulisan poligami di Kompasiana. Wow, saya mendapat sambutan yang menakjubkan dari para Kompasianer, membuat saya tak mau lagi membuka situs itu. Tak mau membaca komentar-komentar yang masuk, yang kebanyakan dari orang yang kontra ekstrim terhadap poligami. Kontra ekstrim? Apa maksudnya?

Membahas soal poligami, akan melibatkan dua golongan: Pro Ekstrim dan Kontra Ekstrim. Kalau hanya Pro, mereka setuju dengan poligami tapi belum tentu melakukannya dan tidak perlu berkampanye poligami. Kalau hanya Kontra, mereka tidak setuju dan tidak akan mau melakukan poligami, tapi tidak menghujat orang-orang yang melakukannya.

Sedangkan, orang-orang yang tergolong ke dalam Pro Ekstrim, biasanya berpendapat bahwa: Poligami adalah sunah Rasul, bagi yang tidak melakukannya, maka tidak tergolong dalam umat Rasul. Sehingga tanpa sadar mereka mewajibkan semua lelaki muslim untuk berpoligami, dan menyarankan para istri agar rela dipoligami. Istri yang rela dipoligami, katanya akan masuk surga. Poligami adalah solusi, daripada berzina atau selingkuh. Solusi juga untuk para perawan tua yang belum dapat jodoh, serta janda-janda yang ditinggalkan suaminya. Saking semangatnya, mereka mengkampanyekan poligami, seakan-akan poligami itu sesuatu yang sangat penting dalam beragama.

Padahal, Rasulullah bukan hanya pernah melakukan pernikahan poligami, tetapi juga pernah menikah monogami dengan Khadijah selama kurang lebih 25 tahun. Sedangkan pernikahan poligami Rasul hanya berlangsung kurang lebih 10 tahun. Jadi, Rasulullah lebih panjang menikah monogami dibandingkan poligami. Sepengetahuan saya, tidak ada satu ayat Al Quran atau hadis Rasul yang menyatakan bahwa poligami itu sunah. Jika ada, tolong beritahu saya. Pengertian “sunah” diambil dari pemahaman bahwa apa-apa yang dilakukan Rasulullah adalah sunah, termasuk poligami. Mereka lupa bahwa Rasulullah juga pernah menikah monogami, jadi sebenarnya monogami juga sunah.

“Sunah” itu sendiri, apabila dijalankan mendapatkan pahala, bila ditinggalkan tidak berdosa. Berhubung poligami dan monogami sama-sama sunah, jadi keduanya tidak bisa ditandingkan, sebab keduanya sama-sama berpahala. Poligami dan monogami adalah pilihan. Tidak ada pemaksaan apakah seseorang harus berpoligami atau monogami. Mana yang lebih adil bagi orang tersebut, itulah yang terbaik. Ada orang yang merasa adil bila berpoligami, ada yang merasa adil bila monogami.

Dari orang yang pro ekstrim, seorang mantan pelaku poligami, saya pernah dipaksa untuk menjawab apakah saya mau dipoligami atau tidak? Dia mencecar saya dengan pertanyaan itu hingga terlihat menyebalkan buat saya. Sebelum saya menjawab pun dia sudah menduga bahwa saya tidak mau dipoligami. Terkesan dia ingin menyudutkan saya, bahwa saya pro poligami tapi tidak mau dipoligami. Memangnya saya salah dengan pilihan itu? Memangnya kalau saya pro poligami, lalu itu berarti saya harus dipoligami? Saya pro poligami dalam arti menerima bahwa poligami termasuk sunah Rasul, bukan aib, dan tidak menghujat orang-orang yang melakukannya. Sementara bagi saya dan suami, saat ini pernikahan monogami-lah yang paling adil untuk kami. Lah wong suami saya tidak mau poligami, masa disuruh poligami?

Sementara si mantan pelaku poligami itu sendiri, orang yang mencecar saya dengan pertanyaan itu, nyatanya tidak bisa membuktikan bahwa pernikahan poligami adalah solusi baginya, karena pernikahan poligaminya telah digagalkan oleh kata “cerai.” Meski begitu, dia tetap menganggap poligami sebagai solusi. Bagi saya, itu pilihannya, tapi dia tidak bisa memaksakan pilihannya kepada saya. Bagaimana kalau suami saya berpoligami, lalu yang terjadi adalah perceraian juga? Akhirnya menjadi pernikahan yang tidak adil buat saya dan madu saya itu, dan lebih tidak adil lagi buat anak-anak kami. Sedangkan, sejak awal menikah, saya dan suami telah bersepakat bahwa tidak akan ada kata “cerai,” dan kami akan berusaha sekuat mungkin untuk menghindarinya, termasuk bila celah perceraian itu menyelinap melalui poligami. Dengan kata lain, poligami tidak ada dalam kamus keluarga kami jika itu justru menyebabkan perceraian.

Tentu saja ada perkecualian bagi orang yang merasa pernikahan poligami adalah adil baginya. Seperti salah satu kisah nyata poligami di dalam buku “Gado-Gado Poligami” yang ditulis oleh Ade Anita. Berkisah tentang seorang wanita karier yang sangat bahagia dengan pernikahan poligaminya, karena dengan begitu ia bisa berbuat adil terhadap suaminya. Sebagai wanita karir, ia tidak punya banyak waktu untuk mengurus suami dan anak-anaknya. Ia merasa telah banyak menelantarkan keluarganya, sehingga memperbolehkan suaminya untuk menikah lagi dengan seorang wanita perawan tua yang telah diangkat rahimnya. Wanita kedua itulah yang kemudian mengurus suami dan anak-anaknya. Mereka tinggal serumah dan rukun-rukun saja.

Sayangnya, dari sekian banyak kisah nyata poligami yang ditulis oleh kontributor, hanya satu kisah itulah yang mengisahkan pernikahan poligami yang adil. Lainnya justru mengisahkan pahit dan getirnya, atau ketidakadilan dalam pernikahan poligami. Ketidakadilan yang dirasakan, baik oleh istri pertama, istri kedua, istri selanjutnya, bahkan anak-anaknya.

Sedangkan dari golongan yang kontra ekstrim, saya dapatkan dari komentator tulisan saya di Kompasiana. Saking bencinya dengan poligami, mereka sampai menghujat Rasul, mencela ajaran Islam, bahkan mendoakan saya supaya dipoligami. Terutama mereka memang dari nonmuslim, yang menjadikan poligami sebagai bahan untuk menjatuhkan agama Islam dan Nabi Muhammad. Itu bisa jadi bahan introspeksi juga untuk golongan yang pro ekstrim. Jangan sampai mereka sibuk mengkampanyekan poligami, tapi tidak bisa membuktikan keadilan poligami itu sendiri, bahkan malah bercerai. Buktikan, jika memang poligami itu solusi, wujudkanlah pernikahan poligami yang bahagia di dalam keluarga Anda. Sesungguhnya, hakikat pernikahan itu sendiri bukanlah poligami atau monogami, melainkan kesanggupan untuk mencapai pernikahan yang barokah, sakinah, mawaddah, dan warrahmah.

Jika pernikahan poligami lebih bisa mencapai tujuan itu, silakan dilakukan. Tetapi bila pernikahan monogami-lah yang lebih pas buat kita, ya tidak mengapa. Tidak ada paksaan dalam beragama, kecuali untuk hal-hal yang wajib, dan pernikahan poligami bukan wajib. Bayangkan jika hukum poligami menjadi wajib, berapa banyak laki-laki muslim yang akan masuk neraka karena tidak melakukannya? Termasuk bapak saya, yang seumur hidup tidak pernah poligami. Bayangkan juga jika monogami yang wajib, maka para suami yang memilih berpoligami pun bisa dijebloskan ke neraka. Untunglah, keduanya hanya sunah, bila dilakukan mendapatkan pahala, tidak dilakukan pun tidak berdosa.

Itulah pendapat saya mengenai poligami. Bukan berarti dengan menyusun buku “Gado-Gado Poligami,” lalu saya berubah menjadi pro ekstrim, di mana semua suami harus berpoligami dan para istri harus rela dipoligami kalau mau masuk surga. Tolong beritahu saya bila benar ada ayat yang menyatakan para istri akan masuk surga kalau bersedia dipoligami. Saya pun tidak lalu menjadi kontra ekstrim terhadap poligami, dengan menghujat para pelaku poligami dan menyarankan orang agak tidak berpoligami, karena isi buku “Gado-Gado Poligami,” tidak hanya kontra, tapi juga ada yang pro.

Nah, bagaimana dengan Anda sendiri? Apa pendapat Anda terhadap poligami? Tuliskan dalam bentuk opini, cerpen, fiksi kilat, atau bahkan puisi, di blog Anda. Sertakan kover buku “Gado-Gado Poligami” yang bisa didownload dari blog saya. Tuliskan link blog Anda yang memuat pendapat Anda tentang poligami, di kolom komentar, di bawah tulisan saya ini. Ada lima buku “Gado-Gado Poligami” untuk lima orang yang beruntung. Penjurian berdasarkan penilaian saya, bukan like atau komentar. Tak masalah jika Anda berbeda pendapat dengan saya, tidak akan mempengaruhi penjurian. Terima kasih atas keikutsertaannya. Deadline 1 Juli 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: